Minggu, 06 Desember 2009

Dewa Ruci; Perjalanan Sufi (I) : KH. Jalaluddin Rakhmat

Menjelang Bharatayudha, Prabu Dhuryudhana memanggil seluruh anggota
Kurawa buat melakukan Sidang Istimewa.
Dari perhitungan kertas, Kurawa lebih kuat dari Pendawa kecuali karena
satu hal saja; Pendawa memiliki Bhima yang sangat sakti. Di samping
sangat perkasa, Bhima juga ksatria yang jujur, lugu, dan kuat kemauan.
Ia tidak bisa dibeli. Ia bepegang teguh pada keyakinannya. Bhima
berkata, "Sing sapa becik, dhen beciki, sapa ala dhen alani, nadhyan
bahu kanan-kering jen ala binuwang." Supaya Kurawa menang, sidang
memutuskan: Binasakan Bhima. Tapi, masalahnya, Bhima terlalu kuat untuk
dikalahkan.
Dibuatlah sebuah skenario. Bhima harus dibuang.
Caranya bagaimana?
Bhima sangat hormat dan patuh kepada gurunya, Resi Dhurna. Resi Dhurna
memerintahkan Bhima untuk mencari air kehidupan: Tirta Perwita, tirta
prawita, atau tirto sucining ngaurip, tirta kamandalu.
Amrtanjiwangi, amrta, atau tirta amrta.
Menurut Sang Begawan, siapa saja yang dapat memperoleh air kehidupan
ini, ia akan mencapai tingkat hidup yang sempurna. Ia akan memiliki
pranawa "ilmu kebebasan jiwa." Ia akan memahami rahasia kejadian alam
semesta dengan segala isinya. Ia akan "saestu sumerep purwa-wekasaning
jagadh royo" atau ilmu tentang sangkan paraning dhumadhi. Bhima tidak
boleh ragu-ragu dalam mencari tirta amrta ini, karena "jen rering rangu
bade mboten sumerep sarto dhumugi telenging kawruh kasunyataan."

Tirta amrta ini tidak mudah diperoleh. Ia berada di Gunung Candramuka,
di Rimba Palasara. Tanpa ragu, Bhima berangkat, walaupun
saudara-saudaranya menghalanginya. Tekadnya sudah bulat. Ia harus
berkhidmat kepada gurunya. Ia memasuki gua di Gunung Candramuka itu. Di
situ ia bertemu dengan dua raksasa: Rukmuka dan Rukmakala. Melalui
pertempuran yang dahsyat, Bhima berhasil mengalahkan keduanya; yang
ternyata kemudian -setelah mati- berubah menjadi Bhatara Indra dan
Bhatara Bayu. Dan melalui suara batin, Bhima mendengar dari kedua dewa
itu bahwa Dhurna sebenarnya berdusta. Tirta kehidupan itu tidak berada
di Candramuka.

Bhima bergegas ke Ngastina.
Dhurna berkata kepadanya, "O, anakku, hal ini tidak mengherankan. Memang
kami sengaja, telah kurencanakan sedari semula. Sebenarnya kami hanya
ingin mengetahui seberapa jauh kesanggupanmu pada umumnya. Tempat air
hidup ini sebenarnya terletak di tengah-tengah rimba Palasari tadi, di
dalam sebuah gua yang berbentuk 'sumur gumuling' Silakanlah kembali
mengambilnya dari dalam gua tersebut. "
Bhima kembali lagi.

Tetapi sebelum kembali, ia sekali lagi menghadap saudara-saudaranya,
mohon doa restunya.
Mereka meminta Werkudara untuk tidak berangkat. Tapi Bhima tidak
menghiraukannya.
Ia masuk ke dalam Gua Sigrangga, di tengah rimba Palasara.
Di sini juga, alih-alih air kehidupan, Bhima bersua dengan seekor ular
besar.
Ular itu membelit tubuh Bhima dengan belitan yang sangat ketat. Ketika
dengan "kuku Pancanaka" Bhima berhasil mengalahkannya, ular itu
menghilang dan menjelma menjadi bidadari, Dewi Maheswari.
Kali ini, Sang Dewi memberitahu putra kedua Pendawa itu bahwa air
kehidupan sebenarnya tidak terletak di Gua Sigrangga.

Ia kembali lagi kepada gurunya. Seperti biasa, Pendeta Dhurna mengatakan
bahwa ia hanya ingin menguji muridnya.
Pada kali pertama, ia ingin menguji keikhlasannya; kedua, kesetiaannya;
dan ketiga, ketetapan akan kesempurnaan hidupnya.
Air kehidupan itu sebenarnya ada di dalam lautan selatan, yang penuh
gelombang besar.
Dalam perjalanannya menuju Laut Selatan, ia sampai di sebuah rimba
belantara, yang penuh bahaya, Wana Sunyapringga.
Di sini, ia tiba-tiba dicegat oleh empat saudara. Mereka
menghalang-halangi maksud Bhima untuk menceburkan dirinya ke dalam samudra.
Keempat saudara itu adalah Anoman, kera yang berwarna putih; Jajagwreko,
raksasa yang berwarna merah; Setubandha, gajah berwarna hijau; dan
Begawan Maenaka, pendeta berwarna kuning. Bhima sendiri berwarna hitam.

Bhima menolak nasihat keempat bersaudara itu dengan mengatakan tekadnya
untuk "nggebyur ing telenging samudro,….sanadhyan tumekeng antaka
anetepi ugo janji kautaman."
Bhima mengusir mereka dalam pertempuran yang tidak kurang dahsyatnya.
Bhima mengembalikan mereka ke tempatnya masing-masing.
Lepas dari halangan saudara-saudaranya sekekuatan (tunggil bayu), Bhima
melocat ke dalam lautan.
Ia disambut dengan semprotan racun dari ular besar Nabatnawa.
Bhima dapat menghindarkan bahaya bisa ular itu dengan aji Jalasengsara
yang dimilikinya.
Ia juga bisa berjalan di dalam dan di atas air laut. Segera terjadilah
pertempuran mati-matian di antara Bhima dan Nabatnawa.

Kemenangan -sudah dapat diduga- berada pada Bhima, tetapi ular yang
terluka dengan Kuku Pancanakanya itu mengeluarkan banjir darah yang
mencelup air samudra menjadi merah.
Ketika Bhima mengambil air laut yang merah itu dan mempersembahkannya
kepada gurunya sebagai air amrta, Resi Dhurna menolaknya.
Ia mengatakan bahwa yang diberikan Bhima itu bukan amrta sejati, tetapi
air yang sudah tercemari. Ia diperintahkan untuk terjun kembali.
Sekarang Bhima yang perkasa sudah hampir kehabisan tenaga.
Ia diombang-ambingkan oleh gelombang samudra yang besar.
Ia berulangkali dibenturkan ke batu karang yang keras dan tajam.
Ia merasa terpuruk dan hampir mendekati ajalnya.

Pada saat itulah Dewa Ruci muncul.

Ia menaruh kasihan kepada Bhima yang sengsara.
Ia mula-mula muncul sebagai cahaya yang terang benderang (mencorong
manter sak sodho lanang).
Setelah itu ia muncul sebagai anak kecil yang rupanya persis seperti Bhima.

Dalam pertemuan itu terjadilah dialog yang sangat mistikal antara
mereka. Saya tidak bermaksud mengutip semua dialog ini, tetapi ingin
menutup kisah singkat ini dengan mengutip sebagian kecil dialog seperti
terdapat pada Tjeritera Dewa Rutji:

"Adaku pada tempat ini," kata Dewa Rutji selandjutnja, ialah hanja untuk
"mengejobungah" (rindu akan kegirangan, kesukaan, suka tjita).
"Mungkinkah keinginan tuan itu tertjapai pada tempat jang sunji senjap
seperti ini?" Tanja Bima heran.
Djawab Dewa Rutji: "Kaki, ijo sedjatine bungah iku kang wus anggedekhake
panarimo lan santoso. Margo ono ing paramean aku ora seneng, kekurangan
aku ora nggrantes, tjatjad wus ndhak anggep pantes. Dhene kang ndhak
pangan jen ono godong kumlejang kang tibeng ngarsaku, lamun sepen sepi."
(Ketahuilah, wahai anakku pada hakikatnja, sukatjita itu dapat
memperbesar rasa "menerima" atau terima kasih (aanvaarden en berusten.)
dan keteguhanku. Pada suatu pesta aku tidak merasa lebih senang lagi.
Kekurangan dan kemiskinan, kemelaratan bagiku tidak berarti penderitaan
atau kesedihan. Ilat (tjatjad) saya anggap tidak merugikan diriku.
Makananku ialah amat sederhana, artinja sederhana sadja!)

Cerita Dewa Ruci diduga -menurut Prof. Dr. RM. Ng Purbotjaroko dan Dr.
Stutterheim- ditulis kira-kira pada masa peralihan agama, atau pada awal
tersebarnya Islam di Tanah Jawa. Cerita aslinya, yang dianggap
Babon-nya, dinisbahkan kepada Mpu Ciwamurti. Tetapi naskah-naskah
kemudian dihubungkan kepada Ajisaka, yang konon menjadi murid Maulana
Ngusman Ngali, seorang penyebar agama Islam. Pada tangan Sunan Bonang,
Serat Dewa Ruci yang asli itu diterjemahkan dari Bahasa Kawi ke dalam
bahasa Jawa Modern. Terjemahan ini tersimpan di perpustakaan pribadi R.
Ng. Ronggowarsito.
Siapa pun penulisnya, naskah Dewa Ruci yang kita ketahui sekarang,
tampaknya telah diislamkan atau dipergunakan untuk menyebarkan ajaran
Islam, khususnya tasawuf.

Orang hanya dapat memahami Dewa Ruci bila ia memiliki latar belakang
ilmu tasawuf, dengan merujuk paling tidak pada karya-karya Al-Ghazali
dan Ibn Arabi. Walaupun Prof. Dr. Ng. Purbotjaroko mengatakan bahwa
nilai sastra dewa Ruci itu tidak besar dan nilainya sebagai buku tasawuf
juga tidak begitu penting, bagi kebanyakan orang Jawa, terutama
"angkatan tua", ia dianggap sebagai sumber pokok ajaran Kejawen, sebagai
rujukan untuk "ilmu kasampurnan" .

Dalam Cerita Dewa Ruci, sebenarnya tasawuf disampaikan dengan
menggunakan "bahasa" orang Jawa. Secara hermeneutik, jika kita membaca
Cerita Dewa Ruci dengan Vorverstandnis (preunderstanding) sastra modern,
kita akan mengatakannya seperti Prof. Dr. Ng. Purbotjaroko.
Tetapi bila preunderstanding kita itu dilandasi pada literatur sufi,
kita akan melihatnya sangat sufistik.
Sudah lazim dalam literatur sufi, para sufi mengajar lewat ceritera.
Cerita itu diambil dari khazanah budaya bangsa yang dihadapi para sufi itu.
Lihatlah, bagaimana Sa'di, Rumi, dan Hafez mengambil banyak cerita dari
khazanah Persia untuk mengajarkan tasawuf.

R. Ng. Ronggowarsito, yang sempat mengakses Dewa Ruci itu di
perpustakaannya, sering merujuk kepadanya dan sangat terpengaruh olehnya
pada karya-karya sufistiknya.
Sebagai misal, dalam Suluk Suksma Lelana, dikisahkan seorang santri yang
bernama Suksma Lelana.
Ia melakukan perjalanan panjang untuk mencari ilmu sangkan paran kepada
seorang guru kebatinan yang bernama Syekh Iman Suci di arga (bukit) Sinai.
Ia mengalami berbagai cobaan. Ia berhadapan dengan putri Raja Kajiman
bernama Dewi Sufiyah, dengan dua orang pembantunya: Ardaruntik dan
Drembabhukti.

Menurut Dr Simuh, ketiga makhluk ini melambangkan tiga macam nafsu:
Sufiyah, Amarah, dan Lawwamah. Para penafsir Dewa Ruci juga menyebut gua
di Candramuka dengan dua raksasa di sana sebagai tiga macam nafsu. Ada
juga yang menyebut Bhima dengan empat saudaranya (saderek gangsal
manunggil bayu), sebagai perjuangan diri kita melawan empat nafsu -
Lawwamah, Amarah, Sufiyah, dan Mutmainnah.

Dewa Ruci, Gilgamesh, Aleksander, dan Khidhir

Sangat tidak mungkin membahas penafsiran Dewa Ruci sebagai buku tasawuf
di sini.
Kita memerlukan bukan saja buku tersendiri untuk itu tetapi sebuah
penelitian yang mendalam -boleh jadi dengan menggunakan pendekatan
hermeneutik mutakhir (yang dikritik sangat nihilistik belakangan ini)-
kepada teks Dewa Ruci.
Apa yang saya sampaikan di sini hanyalah simplifikasi dari pemahaman
saya yang juga sebenarnya sangat sederhana kepada Cerita Dewa Ruci.

Kisah pencarian air kehidupan bukan hanya ada di Jawa.
Kisah ini bahkan bisa dilacak sampai setua kebudayaan Mesopotamia, pada
bangsa Sumeria.
Di kota kuno Uruk bertahta Raja yang sangat perkasa, Gilgamesh.

Ia tidak pernah mengalami kekecewaan kecuali ketika sahabatnya yang
sangat dicintainya, Enkidu, meninggal dunia.
"Seperti singa betina yang ditinggal mati anak-anak bayinya, sang raja
mondar-mandir di dekat ranjang kawannya, meremas-remas rambutnya
sendiri, minta anak buahnya membuat patung kawannya dan meraung-meraung
dengan keras," begitu tertulis dalam 12 bilah papan yang dikumpulkan
dari fragmen Akkadia, kira-kira 1750 SM.

"Aduhai, biarlah aku tidak mati seperti sahabatku Enkidu. Derita telah
merasuki tubuhku. Mati aku takut. Aku akan terus berjalan. Aku tidak
akan mundur," kata Gilgamesh sambil meneruskan perjalanannya mencari
tanaman yang akan melepaskannya dari kematian dan mengantarkannya kepada
keabadian. Hampir seperti Dewa Ruci, ia menempuh perjalanan yang berat
dan berbahaya. Ia berhadapan dengan singa-singa yang buas, yang dapat ia
hindari berkat bantuan Dewa Bulan. Ia pergi ke gunung di tempat mentari
tenggelam. Kepadanya diperlihatkan kematian. Ia berjumpa dengan manusia
kalajengking yang menjaga gua. Seorang di antaranya membukakan pintu
gua. Gilgamesh dilemparkan ke dalam kegelapan. Habis gelap terbitlah
terang. Ia sampai ke taman yang indah dan di tepi pantai ia berjumpa
dengan putri yang misterius, Siduri. Sang putri melarangnya meneruskan
perjalanan:

O Gilgamesh, whither do you fare?
The life you seek, you will not find
When the gods created man,
They apportioned death to mankind;
And retained life to themselves
O Gilgamesh, fill your belly,
Make merry, day and night;
Make of each day a festival of joy,
Dance and play, day and night!
Let your raiment be kept clean,
Your head washed, body bathed,
Pay heed to the little one, holding onto your hand,
Let your wife delighted your heart,
For in this is the portion of man

Tetapi Gilgamesh tidak ingin berkutat pada "the portion of man".
Ia ingin mencari jauh di luar itu. Ia ingin abadi.
Putri itu mengantarkannya kepada tukang perahu kematian, yang pada
gilirannya mengantarkannya ke lautan kosmis.
Di situ ia berjumpa dengan Untuk-napishtim, yang hidup abadi bersama
isterinya.
Ia diberitahu bahwa tanaman keabadian itu terletak di dasar samudra kosmis.
Ia harus memetiknya. Pohonnya berduri yang sangat tajam.
Tak pernah orang datang untuk memetik tanaman itu, kembali ke pantai
dalam keadaan selamat.
Jika durinya mengenai tangan, tangan akan segera terpotong; tetapi bila
tangan itu berhasil mencabutnya, ia akan hidup abadi.
Singkatnya cerita, Gilgamesh berhasil memetiknya, membawanya ke pantai,
dan -ketika ia beristirahat mandi sejenak- ular mencuri tanaman itu.
Gilgamesh tidak bisa berusia panjang, tetapi ular bisa .

Lalu, lebih kemudian dari kebudayaan Sumeria, adalah kisah kepahlawanan
Aleksander yang Agung dari Masedonia.
Setelah berbagai penaklukannya yang menakjubkan, ia juga ingin mencari
air kehidupan, yang akan memberikannya keabadian.
Aleksander menempuh perjalanan panjang bersama tukang masaknya yang
bernama Andreas.
Setelah berkelana bertahun-tahun, akhirnya keduanya memutuskan untuk
mengambil jalan terpisah.
Pada suatu tempat, di tepi sungai, Andreas berhenti untuk makan.
Ia membuka bakul makanan, yang di dalamnya sudah disimpan ikan yang
sudah dimasak.
Tiba-tiba sepercik air mengenai ikan itu. Ikan melompat ke sungai.
Andreas mengejar ikan itu dan akhirnya kecebur dalam air keabadian.

Kisah Aleksander ini disebutkan dalam Al-Quran sebagai kisah Zulqarnain.
Kitab-kitab tafsir menjelaskan maksud perjalanan Zulqarnain ini sebagai
upaya mencari air kehidupan.
Kisah Zulqarnain ini dikisahkan segera setelah Tuhan bercerita tentang
perjalanan Musa as untuk belajar kepada seorang manusia yang juga hidup
abadi.
Al-Quran tidak menyebutkan nama guru ruhani ini. Hadits menyebutkannya
sebagai Khidhir:

Diriwayatkan oleh Sa'id bin Jubayr: Aku berkata kepada Ibnu Abbas -Nauf
al-Bikali menyatakan bahwa Musa, sahabat Al-Khidhr, bukanlah Musa dari
Bani Israil. Ibn Abbas berkata: Musuh Allah itu berdusta. Diriwayatkan
oleh Ubayy bin Ka'ab bahwa ia mendengar Rasulullah saw bersabda: Musa
berdiri menyampaikan khotbah di hadapan Bani Israil. Ia ditanya siapakah
manusia yang paling berilmu. Musa menjawab, "Aku." Allah memperingatkan
dia karena ia tidak menisbahkan pengetahuan pada Tuhan semata. Allah
mewahyukan kepadanya, "Di pertemuan di antara dua lautan ada hamba Kami
yang lebih berilmu dari kamu." Musa bertanya, "Ya Allah, di mana bisa
kujumpai dia?" Allah berkata, "Bawalah ikan dan masukkan ke dalam wadah
dan berjalanlah (sampai kamu kehilangan ikan itu)."
Berangkatlah Musa beserta pembantunya -Yusya bin Nun, sampai mereka
mencapai sebuah batu. Keduanya beristirahat dan tidur di atasnya. Ikan
tergoncang dalam wadah dan terlempar ke dalam laut dan mengambil jalan
ke laut seperti dalam terowongan (QS. Al-Kahfi; 61). Allah menghentikan
arus air di kedua arah yang dibuat ikan itu, sehingga jalan itu mirip
terowongan. Ketika Musa bangun, sahabatnya lupa menyebutkan ikan itu.
Mereka melanjutkan perjalanan selama sisa hari itu dan sepanjang malam.
Pada pagi harinya, Musa menyuruh pembantunya, "Bawalah makanan pagi
kita. Sebenarnya kita sudah menemui kelelahan dalam perjalanan ini."
(QS. Al-Kahfi; 62).

Musa tidak kelelahan sampai ia mencapai tempat yang diperintahkan Allah
untuk dicari Musa. Pelayannya berkata, "Ingatkah Anda ketika kita
beristirahat di atas batu? Aku lupa pada ikan itu. Hanya Setanlah yang
membuat aku lupa. Ikan itu sudah mengambil jalan ke laut dengan sangat
mengherankan." (QS. Al-Kahfi; 63). Adanya terowongan untuk ikan itu,
bagi Musa dan pembantunya adalah hal yang sangat mencengangkan. Musa
berkata: Itulah tempat yang kita cari. Jadi mereka kembali lagi, menapak
tilas yang pernah dilewatinya (QS. Al-Kahfi: 64). Mereka kembali sampai
mereka berjumpa dengan seorang berjubah . (Bersambung)

§ Makalah KH. Jalaluddin Rakhmat yang disampaikan pada Seminar Tasawuf
dalam Tradisi Jawa, sekaligus ulang tahun Yayasan Tazkiya Sejati, yang
dilaksanakan pada 5 Agustus, 2000 di Jakarta Design Center, Jakarta.

Catatan Kaki
[1] Singkatan Kisah Dewa Ruci dalam makalah ini merujuk pada buku ini;
yakni, Dr A. Seno-Sastroamidjojo. Tjeritera Dewa Rutji. Djakarta:
Penerbit Kinta, 1967.
[2] Dr A.Seno-Sastroamidjojo, ibid, menulis: "Oleh sebagian besar bangsa
Djawa terutama, lebih-lebih jang kini telah tergolong pada jang
dinamakan 'angkatan tua' pun dianggap selaku pembimbing dalam usahanja
mentjari djalan ke arah tertjapainja 'kawruh kasampurnaan (ilmu
pengetahuan mengenai usaha mencapai kesempurnaan hidup.
[3] Dr Simuh. Mistik Islam Kejawen Raden Ngabehi Ranggawarsita: Sebuah
Studi terhadap Serat Wirid Hidayat Jati. Jakarta: UI-Press, 1988. h. 58.
Menarik untuk segera ditambahkan bahwa menurut Dr. Simuh, Kitab Suluk
Suksma ini dipengaruhi sangat oleh ajaran Syiah, karena di situ
disebutkan peranan Imam Zainal Abidin sebagai cucu buyut Nabi yang luhur
budinya, yang rela menyerahkan haknya sebagai imam kepada raja kafir dan
beliau puas hanya sebagai pemuka para santri (lihat h. 59).
[4] Joseph Campbell. Occidental Mithology: The Masks of God. New York:
Penguin Books, 1976. h 90-92
[5] Lihat kisah perjalanan Musa dan Khidhr dalam Al-Kahf 60-82. Kisah
Zulqarnain dilanjutkan dalam Al-Kahf 83-99. Saya kira ada maksud Tuhan
yang tidak saya ketahui mengapa Kisah Zulqarnain itu merupakan sambungan
dari kisah Musa dan Khidhr, wallahu a'lam.
[6] Shahih al-Bukhari 6, hadits 249.

Tidak ada komentar: